Thursday, June 28, 2007


Psikolog brilian asal Rusia, Pavel Semenov, menyimpulkan bahwa manusia memuaskan kelaparannya akan pengetahuan dengan dua cara. Pertama, melakukan penelitian terhadap lingkungannya dan mengatur hasil penelitian tersebut secara rasional (sains). Kedua, mengatur ulang lingkungan terdekatnya dengan tujuan membuat sesuatu yang baru (seni)….

Dengan definisi diatas, punk dapat dikategorikan sebagai bagian dari dunia kesenian. Gaya hidup dan pola pikir para pendahulu punk mirip dengan para pendahulu gerakan seni avant-garde, yaitu dandanan nyleneh, mengaburkan batas antara idealisme seni dan kenyataan hidup, memprovokasi audiens secara terang-terangan, menggunakan para penampil (performer) berkualitas rendah dan mereorganisasi (atau mendisorganisasi) secara drastis kemapanan gaya hidup. Para penganut awal kedua aliran tersebut juga meyakini satu hal, bahwa hebohnya penampilan (appearances) harus disertai dengan hebohnya pemikiran (ideas).

Punk selanjutnya berkembang sebagai buah kekecewaan musisi rock kelas bawah terhadap industri musik yang saat itu didominasi musisi rock mapan, seperti The Beatles, Rolling Stone, dan Elvis Presley. Musisi punk tidak memainkan nada-nada rock teknik tinggi atau lagu cinta yang menyayat hati. Sebaliknya, lagu-lagu punk lebih mirip teriakan protes demonstran terhadap kejamnya dunia. Lirik lagu-lagu punk menceritakan rasa frustrasi, kemarahan, dan kejenuhan berkompromi dengan hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran serta represi aparat, pemerintah dan figur penguasa terhadap rakyat.

Akibatnya punk dicap sebagai musik rock n’ roll aliran kiri, sehingga sering tidak mendapat kesempatan untuk tampil di acara televisi. Perusahaan-perusahaan rekaman pun enggan mengorbitkan mereka.

Gaya hidup ialah relatif tidak ada seorangpun memiliki gaya hidup sama dengan lainnya. Ideologi diambil dari kata "ideas" dan "logos" yang berarti buah pikiran murni dalam kehidupan. Gaya hidup dan ideologi berkembang sesuai dengan tempat, waktu dan situasi maka punk kalisari pada saat ini mulai mengembangkan proyek "jor-joran" yaitu manfaatkan media sebelum media memanfaatkan kita. Dengan kata lain punk berusaha membebaskan sesuatu yang membelenggu pada zamannya masing-masing.


Labels:


Read more!  
posted by Fredy at 2:38 PM 19 comments


Lagu yang dinyanyikan oleh Bunga Hitam ini sangat memberi informasi kepada kita mengenai kehidupan para punk jalanan.

Lagu yang berjudul “Dukung Yang Berikutnya” (2:25) dengan lirik seperti berikut ini:

Punk bicara tentang kebersamaan
Yang membuat kita bersatu dan kuat
Punk bicara tentang kebebasan
Kontrol diri tanpa norma yang menjerat

•>
Generasi punk yang merah membara, mengharap dukungan kita semua
Kebersamaan yang kita jalankan, kan membuat mengerti semua

Reff:
Punk bicara tentang kebersamaan
Punk bicara tentang nilai kebebasan [2x]

Lirik ini bermakna bahwa kehidupan anak – anak punk jalanan yang penuh keakraban dan kebersamaan seperti halnya dengan semboyan mereka EQUALITY AND FREEDOM, yanitu bersama dan kebebasan. Dengan semboyan seperti itu rasanya sangat sulit untuk mencerai berai mereka. Juga butuhnya dukungn generasi muda punk street yang baru.

Tapi, tidak semua orang menganggap punk itu bukan ancaman bagi mereka. Ada sebagian orang yang menganggap dengan pakainnya yang lusuh, kotor, sobek, serta penuh emblem dan dipenuhi dengan tindik, percing, rambot mo hawk, rantai, bahkan bertato dianggap sebagai sampah masyarakat. Kenyataannya, salah. Banyak anak – anak punk yang berhati nurani baik misalnya ketika mereka mengamen di tempat – tempat umum yang hasilnya biasanya digunakan untuk memberi makan para pengemis ataupun pemulung.

Sungguh itu adalah sebuah peringatan bagi kita agar tidak memandang sesuatu dari luarnya saja. Kita lihat para pejabat yang berdasi rapi, ber-jas, mobil mewah, sepatu bagus malah justru adalah sampah masyarakat ketika ia tidak memiliki belas kasihan kepada rakyat miskin. Dan sebaliknya, para punk street dengan gaya dan cara berpakaian mereka yang seperti malah sikap mereka patut ditiru. surabaya_scumpunk@yahoo.com

Labels:


Read more!  
posted by Fredy at 1:46 PM 147 comments
Tuesday, June 26, 2007

Beberapa hari yang lalu (15 Januari 2007) RCTI dengan program URBAN-nya menayangkan episode dengan tajuk “GENERASI PUNK”, dalam program ini pula…nyaris tiap detiknya didominasi oleh liputan tentang MARJINAL dan aktifitas kesehariannya bersama kawan-kawan di TARING BABI…

band punk yang gak perlu saya sebutkan lagi seluk-beluknya karena saya yakin banyak yang udah pada enggeh koq.

Selain MARJINAL, RCTI juga meliput keseharian para street-punk, kemudian dengan sudut pandangnya RCTI membandingkan perbedaan dari keduanya. MARJINAL & TARING BABI disebut-sebut sebagai “PUNK IDEALIS” dan mereka yang diliput sedang asik nongkrong dengan sebutan “PUNK JALANAN/STREET PUNK”.

Dari beberapa scene, menurut saya…pesan yang coba disampaikan oleh kawan-kawan MARJINAL & TB cukup positif, secara keseluruhan….setidaknya acara ini nggak seperti kebanyakan acara lainnya di tivi yang senantiasa menampilkan stigma buruk punk keatas publik tanpa investigasi dan informasi yang akuran, sebut saja acara “7 hari menuju taubat” dimana seorang punk digambarkan sebagai sosok pendosa yang sudah seharusnya bertaubat, atau acara “metro realitas” episode punk yang dulu sempat menggemparkan karena lebih banyak menyoroti sisi negatif dari punk tanpa menelaah hal positif yang ada.

Semula saya sempat heran saat mike muncul di iklan acara URBAN di tivi…penasaran akhirnya niat banget buat nonton ;P, selesai nonton…huh…ternyata RCTI cukup sehat kali ini, saya jadi teringat beberapa hari yang lalu saya sempet ngobrol dengan salah satu kawan Taring Babi, saat marjinal bertandang ke Rangkasbitung, Banten, yang kebetulan saya juga sedang berada disana. Dalam obrolan saya bilang…apapun usaha kita dalam menggunakan media komersial sebagai jembatan untuk memperjuangkan kepentingan kita hendaknya dibarengi dengan kewaspadaan, dalam artian jangan lagi “kecolongan” kayak yang lalu-lalu seperti yang saya sebut diatas.

Oke…saya acungi cap jempol momen 15 januari lalu, lantas bagaimana dengan kawan-kawan punk lainnya….ternyata (dari info yang saya dapat via email dari taring babi) kontroversi menyinggung pro-kontra hadirnya sosok taring babi dalam acara tersebut sangat-sangat hebat. Coba deh…baca imel konfirmasi dari TARING BABI yang saya kutip dibawah…semoga pandangan sinis tentang tampilnya kawan baik kita dalam acara tersebut dapat segera kita binasakan dari otak kita.

Penayangan acara “Urban” yang berjudul “Generasi Punk” dari RCTI pada 15 Januari yang lalu telah menimbulkan pro dan kontra dalam komunitas punk di seantero tanah-air. Banyak yang memberi komentar lewat SMS pada komunitas Taringbabi yang mempertanyakan, mengapa Marjinal mau muncul dalam program TV, dan masih banyak lagi ledekan sinis atas nama scene punk. Semua itu diterima dengan lapang dada di komunitas Taringbabi. Semua perhatian itu adalah bentuk rasa sayang kawan-kawan pada kami di Taringbabi. Kami merasa tersanjung dan mengucapkan puji syukur atas komentar, pertanyaan, celetukan, sinisme. Semua itu kami anggap sebagai awal dari ajakan dialog secara terbuka.

Perlu kami beritahukan kepada kawan-kawan, kronologi sebagai berikut:

26 Desember 2007, datanglah reporter RCTI, Dicky dan kameramen Wayan bersama rekan kerjanya ke Taringbabi. Dalam awal pembicaraan, mereka bermaksud membuat liputan tentang komunitas punk untuk program bernama “Urban”. Sebelumnya mereka telah melakukan liputan pada scene punk di Bandung, khususnya yang nongkrong di Bandung Indah Plaza (BIP). Tapi mereka tidak mendapatkan sesuatu hal yang bernas, bahkan mereka tidak mengerti apa itu punk. Mendengar hal tersebut, kami menyambut maksud mereka yang ingin melihat sisi lain dari komunitas punk — yang lain dari hasil liputan TV pada umumnya, yang hanya menyorot punk yang nongkrong kagak ngapa-ngapain.

Kameramen mulai merekam suasana di Taringbabi. Dari yang bikin clothing/sablon, nyetak emblem, cukil kayu dan melakukan wawancara kepada Mike dan Een (seorang dosen yang menjadi nara sumber) dengan tema: kegiatan sehari-hari Taringbabi, interaksi dengan tetangga dan masyarakat di Setu Babakan, Jagakarsa. Disamping itu sang reporter banyak menanyakan kawan-kawan yang berada di jalan (street punk). Secara gamblang Mike menjelaskan bahwa pilihan mereka untuk hidup dan menghidupi jalanan adalah sesuatu yang harus diacungi rasa hormat. Masalahnya, sebagian masyarakat (disamping media) yang selalu memojokkan street punk karena melihat dandanannya yang tidak lazim itu, dan memberi stigma negatif.



31 Desember 2007. Marjinal mendapat undangan manggung di Pasir Gombong, Cikarang. Sudah beberapa kali Marjinal selalu mendapat undangan memeriahkan acara tutup tahun di lokasi yang berbeda-beda. Ini kali Marjinal dan scene-scene musik setempat manggung di sebuah lapangan, dekat sebuah pabrik. Selain Marjinal, tampil juga Akal Bangsat. Kami ngompreng naik kendaraan umum dari Setu Babakan menuju lokasi. Ketika sampai di lokasi, panitia mengabarkan bahwa ada reporter RCTI yang telah menanti Marjinal dan hendak membuat liputan di gig. Ya, kami menyambut Dicki dan Wayan yang memanggul kamera. Panitia menyediakan makan malam. Kami makam malam bersama dengan lahap. Lalu Marjinal pergi mencari studio untuk sekadar latihan. Kameramen turut mengambil gambar selama latihan di studio yang selesai pada pukul 11.30. Selanjutnya Marjinal langsung pergi ke lokasi gig. Tepat pukul 00.00 tahun 2007, acara semakin asik. Beberapa band setempat dan dari sekitar Cikarang menghangatkan suasana. Akal Bangsat manggung disusul sebuah band dari Cikarang. Acara ditutup oleh Marjinal.

Minggu pertama Januari 2007. Reporter dan kameramen RCTI masih bertandang ke Taringbabi membuat liputan: Boby pergi ke pasar, Mike masak di dapur.

Tiga hari menjelang “Urban” ditayangkan: RCTI membuat spot/ekstra tentang program itu yang diberi judul: Generasi Punk; Punk Never Die. Taringbabi menerima Beberapa SMS menanggapi acara itu dengan negatif.

15 Januari 2007. “Urban” ditayangkan. Taringbabi menerima kiriman SMS yang menyambut dengan hangat “Urban” dan memberi selamat pada Marjinal. Tapi ada juga yang berkomentar dengan sinis.

16 Januari 2007. Pukul 18.00, kawan-kawan Taringbabi berkumpul untuk membahas respon yang muncul dari SMS, bahkan ada yang mengatasnamakan 12 scene punk di Jakarta. Kami di Taringbabi hanya bisa berbesar hati menerima pesan-pesan itu, dan senyum-senyum membayangkan siapa-siapa aja ya 12 scene punk itu.

17 Januari 2007. Kawan-kawan di Taringbabi memutuskan melakukan dialog dengan kawan-kawan lainnya. Mengundang Dicki (reporter RCTI) lewat telpon untuk datang ke Taringbabi (dia sih oke-oke aja) lalu meminta copy liputannya yang masih utuh (belum disunting). Dia menyambut keinginan itu. Rencananya Taringbabi akan memperbanyak dan menyebarkan pada komunitas punk.

Dari kronologi di atas, adalah cukup jelas bahwa Taringbabi secara sadar… ingat SECARA SADAR menggunakan media TV secara kreatif. Taringbabi tidak pernah membuat kompromi dengan media, apalagi menggunakannya sebagai alat promosi diri. Kami hanya menyadari bahwa media TV memberikan dampak yang besar pada masyarakat, dan digunakan sebagai medium penyampai pesan-pesan (tentu perjuangan punk, lho) yang sampai saat ini masih mendapat stigma negatif dari sebagian masyarakat.

Selama ini dalam program-program TV nasional/lokal dengan gamblang menempatkan punk secara negatif. Ingat program “7 Hari Menuju Tobat” dari La Tivi yang memposisikan punker sebagai pendosa. Belum lagi iklan obat influenza yang menggunakan model punker secara negatif, konyol dan oon. Belum lagi pemberitaan media koran: ingat berita “Punk merusak mushola” di Bogor, berita yang tidak akurat dan tanpa proses verifikasi. Belum lagi aksi penggarukan terhadap kawan-kawan di jalanan dalam operasi yustisia oleh aparat trantib. Semua itu… harus disikapi!

Adalah satu hal yang ganjil, apabila kawan-kawan, scene-scene punker di seantero Jakarta hanya berdiam diri, duduk manis, dan tidak memberikan informasi tandingan (counter information). Menurut hemat kami, masalahnya adalah, masyarakat tidak mengetahui secara jelas aktivitas komunitas punk, di luar panggung musik. Mereka hanya melihat punk secara fisikal (kasat mata). Untuk itu, secara sadar, kami ingin membangun dialog dengan masyarakat, contohnya dengan para tetangga kami di Gg. Setia Budi, Setu Babakan. Semua itu bukanlah proses yang instant. Semua dilalui dengan proses panjang. Apa salahnya apabila kami menggunkan media TV sebagai pembuka menuju dialog lebih jauh dan hangat, ramah dan tamah! Toh, akhirnya Taringbabi diterima secara terbuka oleh masyarakat, tetangga kami: Baba, Mpok Romlah, Jibung, Pak RT, Pak Ustad dan lain-lainnya menerima tamu-tamu kami, para punker seantero Indonesia yang bersilaturahmi ke Taringbabi, dengan bebas dan merdeka, sopan dan santun.

Karena itu Taringbabi sangat terbuka terhadap liputan media TV, tentunya berangkat dari referensi kawan-kawan punk, dan melalui serentetan pertanyaan: maksud dan tujuan liputan itu. Sebelumnya Taringbabi menerima pembuat film dokumenter dari Jerman yang datang bersamaan dengan pertunjukkan keliling CBU, band punk dari Jerman. Melalui referensi dari seorang kawan, kami menerima maksud dan tujuan crew film dari Jerman yang ingin mengetahui kehidupan komunitas punk di Indonesia. Mereka melakukan wawancara seharian selain mengambil gambar kegiatan sehari-hari di Taringbabi. Selain itu, mereka membuat liputan di scene-scene punk lainnya. Semua punker di Jakarta dengan bahagia menyambut crew TV Jerman itu – walau mereka belum tentu menyaksikan hasil film itu dan apa dampaknya dengan publik di Indonesia.

Apa yang dilakukan crew TV Jerman dan apa yang mereka dapatkan, menurut hemat kami di Taringbabi, adalah sama seperti apa yang dilakukan crew RCTI ketika meliput untuk “Urban”, tapi secara langsung dapat disaksikan oleh publik (khususnya: para punker yang masih melek pada pukul 11.30 lewat: kasihan deh lho!) Lalu so wahat gitu lho! Mengapa kita menaruh syak wasangka pada liputan “Urban” kalau itu menyampaikan pesan perjuangan punk: “Anti penindasan, anti fasisme, hidup mandiri, selalu kreatif dan peduli sesama”.



Labels:


Read more!  
posted by Fredy at 7:24 PM 53 comments